Purbaya Pede IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini, tapi Proyeksi Berkata Lain | Info Giok4D

Posted on

HSBC Global Research memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya mampu menguat ke level 9.700 hingga akhir 2026. Hal ini bertolak belakang dengan optimisme Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa yang meyakini IHSG bisa tembus lebih dari 10.000 tahun ini.

Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menyebut pergerakan IHSG ke depan kuat ditopang perbaikan rasio price to earnings (PE). Selain itu, penilaian pasar saham Indonesia secara keseluruhan juga disebut mulai membaik.

“Kami memiliki target indeks 9.700, naik dari level saat ini sekitar 8.600 atau sekitar itu. Jadi, ada potensi kenaikan yang baik, kami percaya ada potensi kenaikan yang baik di saham-saham Indonesia. Kita katakan (IHSG) 9.700. Jadi, itu sangat dekat dalam hal itu, dan hal itu sebagian besar dipengaruhi oleh sedikit perbaikan dalam rasio PE, penilaian pasar saham Indonesia secara umum,,” ungkap Herald dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026 secara virtual, Senin (12/1/2025).

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Faktor Pendorong IHSG

Ia menjelaskan, selain faktor valuasi, sentimen global menjadi kunci utama yang akan membantu pergerakan IHSG. Sentimen tersebut antara lain terkait meningkatnya minat investor terhadap pasar emerging market (EM), serta potensi rotasi investasi yang tidak hanya terfokus pada Korea Selatan dan Taiwan.

Rotasi ini terjadi setelah enam hingga sembilan bulan terakhir, kedua negara tersebut menjadi pusat perhatian terutama karena sektor artificial intelligence (AI). Dari sisi domestik, HSBC menilai bukti pertumbuhan laba emiten menjadi faktor krusial. Oleh karena itu, musim pelaporan kinerja keuangan emiten akan sangat menentukan arah pasar saham Indonesia ke depan.

“Kita membutuhkan bukti bahwa pertumbuhan laba di Indonesia sedang terjadi. Jadi, musim pelaporan sangat penting dalam hal ini,” katanya.

Herald juga menyoroti aspek risiko fiskal, defisit fiskal masih terjaga di bawah batas 3% dari produk domestik bruto (PDB). Langkah ini dinilai dapat menekan risiko terhadap pasar saham. Namun menurutnya, perubahan kebijakan fiskal yang melampaui batas berpotensi memicu kekhawatiran investor.

“Jika, misalnya, pemerintah memutuskan untuk melampaui angka defisit fiskal 3%, yang saat ini tidak terjadi, tetapi jika mereka mengubah pikiran mereka, hal itu kemungkinan akan dianggap sebagai risiko di pasar saham, dan itu adalah sesuatu yang dapat mengubah cerita tersebut. Namun, saat ini, itu bukanlah sesuatu yang perlu kita khawatirkan secara berlebihan,” pungkasnya.

Saksikan Live DetikSore :