Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memberikan dana Rp 3 triliun untuk Satuan Tugas (Satgas) Darurat Jembatan. Dana tersebut digelontorkan untuk pembangunan jembatan di daerah terdampak bencana Sumatera.
“Jadi kita alokasikan Rp 1 triliun ke Satgas Jembatan. Terus kemarin di Hambalang diperintah untuk ditambah Rp 2 triliun. Jadi Satgas Jembatan punya alokasi dana sekarang Rp 3 triliun,” kata dia dalam rapat koordinasi Satgas Pemulihan Pasca-Bencana yang disiarkan melalui YouTube DPR RI, Sabtu (10/1/2026).
Kemudian Purbaya berkelakar bahwa seharusnya pembangunan dapat segera selesai dan lancar dengan adanya anggaran tersebut. Dia juga menyinggung bahwa saat ini Satgas Darurat Jembatan yang berisi TNI ini tidak lagi memiliki utang terkait pembangunan jembatan.
“Kalau nggak beres juga jembatan di sini keterlaluan, tetapi saya pikir, utangnya sudah lunas ya pak? Kira-kira utangnya sudah lunas,” jelasnya.
Untuk diketahui, sebelumnya Purbaya pernah melempar candaan kepada KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Dia bilang Maruli banyak membangun jembatan di kawasan bencana dengan berutang.
Momen ini muncul dalam Rakor Satgas Pemulihan Bencana DPR yang disiarkan virtual, Selasa (30/12/2025). Mulanya Purbaya bilang peran dirinya sebagai Menteri Keuangan pada penanganan bencana cenderung berada di belakang. Pihaknya akan membayar apabila ada ‘tagihan’ yang disampaikan kepada pihaknya.
Sejauh ini pun menurutnya penanganan bencana anggarannya disalurkan lewat BNPB saja, ternyata ada keluhan dari Maruli sebagai Ketua Satgas Pembangunan Jembatan soal biaya pembangunan yang belum terbayar.
Dari situ Purbaya meledek Maruli yang membangun jembatan dengan biaya yang berutang. Kebetulan Maruli duduk di sampingnya persis.
“Yang kami tahu kan selama ini satu pintu lewat BNPB, harusnya sih kita anggap lancar tadinya. Tapi saya baru tahu bahwa sebelah saya punya utang banyak rupanya,” ungkap Purbaya diikuti gelak tawa pejabat yang hadir dalam rapat.
Suasana masih cair, Purbaya langsung bertanya ke Maruli, selama ini membangun jembatan dengan jaminan apa. Maruli menjawab sambil tertawa, jaminannya adalah tentara.
“Bapak kalau ngutang jembatan, jaminannya apa?” tanya Purbaya. “Ya tentara, Pak,” jawab Maruli diikuti riuh tawa ruang rapat.
Saat mendapat kesempatan bicara sebelum Purbaya, Maruli menjelaskan proses pengadaan jembatan memerlukan proses panjang. Bahkan untuk jembatan jenis bailey, Maruli menyebut stok di dalam negeri bahkan di luar negeri sangat terbatas.
“Alhamdulillah presiden kita sudah merencanakan pembelian jembatan bailey dari luar negeri. Itu pun hampir tidak ada ready stock. Jadi, dikumpulkan dari beberapa negara untuk bisa menyuplai ke tempat bencana ini,” ujar Maruli.






