PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) telah merampungkan pembangunan Dermaga Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tanjung Batu milik PT Pertamina Patra Niaga yang berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur. Proyek infrastruktur strategis ini menelan anggaran Rp 301 miliar.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Adjib Al Hakim mengatakan, proyek tersebut saat ini memasuki tahap pemeliharaan selama 12 bulan, setelah sebelumnya serah terima dilakukan pada bulan Februari 2025 lalu.
“TBBM Tanjung Batu merupakan bagian integral dari pengembangan kilang minyak RU-V Pertamina Balikpapan yang bertujuan mengurangi aktivitas Ship To Ship (STS) dalam distribusi produk BBM. Fasilitas ini akan meningkatkan kehandalan pasokan dan distribusi produk sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat di kawasan Indonesia Tengah dan Timur,” terang Adjib, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (29/8/2025).
Ajib mengatakan, kegiatan commissioning untuk sisi laut yang menjadi tanggung jawab Hutama Karya sudah selesai dilaksanakan dengan hasil sudah memenuhi standar yang dipersyaratkan pemilik pekerjaan. Namun operasional keseluruhan fasilitas tersebut masih menunggu paket sisi darat yang dikerjakan oleh kontraktor lain.
“Selama masa pemeliharaan, Hutama Karya melakukan berbagai penyempurnaan dan penyesuaian termasuk memantau spesifikasi setiap item pekerjaan untuk memastikan fasilitas beroperasi optimal saat masa operasional dimulai,” ujar Adjib.
Terminal BBM Tanjung Batu dilengkapi dengan empat jetty berkapasitas berbeda yang mampu melayani kapal dengan bobot 500 hingga 50.000 Dead Weight Ton (DWT) yang mampu mengangkut hingga kurang lebih 14 juta liter liter BBM ke berbagai wilayah. Total luas area laut yang dimanfaatkan mencapai 9.000 meter persegi.
Dalam proses pembangunan, Hutama Karya menerapkan teknologi digital konstruksi canggih dan terintegrasi meliputi pemodelan 3D digital (Building Information Modelling/BIM) membantu perencanaan detail sebelum konstruksi dimulai sehingga mencegah kesalahan pembangunan, menghemat material, dan mempercepat waktu pengerjaan.
“Dengan BIM, kami dapat memastikan setiap bagian dermaga terpasang dengan tepat tanpa perlu membongkar ulang. Seluruh proses pembangunan juga menerapkan standar ramah lingkungan dengan pengawasan ketat dari Dinas Lingkungan Hidup dan otoritas pelabuhan,” terang Adjib.
Sementara dari sisi tingkat kesulitan, lokasi proyek yang hanya dapat diakses melalui jalur laut menjadi tantangan utama dalam mobilisasi material dan pekerja. Untuk itu Hutama Karya mengatasi tantangan ini melalui pendekatan kepada pemilik akses jalur darat untuk mempercepat dan mengefisiensikan proses pengiriman material.
“Pembangunan dermaga dilakukan menggunakan kapal tongkang besar yang dilengkapi berbagai alat berat untuk mengangkut dan memasang material di tengah laut. Tim proyek juga menerapkan prinsip efisiensi dengan memanfaatkan kembali sisa potongan material baja sebagai struktur pendukung tambahan, dan konstruksi sistem precast sehingga meminimalkan pemborosan material,” jelasnya.
Proyek TBBM Tanjung Batu memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat lokal melalui penyerapan tenaga kerja dan pengembangan ekonomi sekitar di mana total man-hour proyek mencapai 2 juta jam kerja dengan zero fatality serta melibatkan ratusan pekerja dengan 30% diantaranya merupakan SDM lokal dari Kalimantan Timur.
TBBM Tanjung Batu akan berperan strategis dalam mendukung peningkatan kapasitas produksi kilang RU-V Balikpapan dari 260 barel per hari menjadi 360 barel per hari. Fasilitas ini akan memangkas biaya dan waktu distribusi produk BBM hasil olahan kilang, menggantikan sistem Ship To Ship yang membutuhkan biaya besar dan waktu tidak fleksibel.
“Proyek ini menjadi tulang punggung distribusi BBM terutama di Kalimantan Timur dengan meningkatkan kecepatan dan kapasitas distribusi yang selaras dengan kapasitas produksi kilang. Hal ini berkontribusi langsung terhadap ketahanan energi nasional,” kaya Adjib.