Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memulai proses rehabilitasi lahan sawah pascabencana di sejumlah wilayah Sumatera. Langkah ini ditandai dengan groundbreaking rehabilitasi sawah terdampak bencana di Lhokseumawe, Aceh hari ini, Kamis (15/1).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan rehabilitasi sektor pertanian ini akan mencakup perbaikan lahan sawah, jaringan irigasi, serta pemulihan sarana dan prasarana produksi agar petani terdampak dapat segera kembali berproduksi.
“Ini tanggung jawab kami sebagai Menteri Pertanian dan sebagai Kepala Badan Pangan Nasional,” tegas Amran dalam keterangan resminya, Kamis (15/1/2026).
Amran menjelaskan total dampak kerusakan lahan sawah akibat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mencapai 98.002 hektare.
Dari jumlah tersebut, Aceh mengalami kerusakan terluas yakni 54.233 hektare yang tersebar di 21 kabupaten/kota, disusul Sumatera Utara seluas 37.318 hektare di 15 kabupaten/kota, serta Sumatera Barat seluas 6.451 hektare di 14 kabupaten/kota.
Kemudian dari keseluruhan luas sawah terdampak itu, kerusakan dengan kriteria ringan hingga sedang mencapai 69.240 hektare, terdiri atas kerusakan ringan seluas 48.969 hektare dan kerusakan sedang seluas 20.271 hektare. Sementara sisanya mengalami kerusakan berat.
Karena jumlah kerusakan yang sangat luas, Amran mengatakan Kementan memprioritaskan rehabilitasi pada lahan dengan kriteria kerusakan ringan dan sedang. Kegiatan rehabilitasi lahan sawah tersebut meliputi perapihan pematang, normalisasi saluran irigasi tersier, primer, dan sekunder, perbaikan bangunan irigasi seperti pintu air dan box bagi, serta pekerjaan olah lahan.
Untuk tahap pengerjaan ditargetkan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026, dengan target luas rehabilitasi di tiga provinsi mencapai 13.708 hektare. Target tersebut terdiri atas Aceh seluas 6.530 hektare, Sumatera Utara 6.593 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare.
“Kami mulai dari yang ringan dan sedang, baru terakhir yang berat. Sekitar 90-95% akan kami selesaikan lebih dulu,” ujar Amran.
Dari sisi pembiayaan, Kementerian Pertanian telah menyiapkan alokasi anggaran eksisting rehabilitasi lahan sawah nasional seluas 10.000 hektare dengan nilai Rp 148,53 miliar. Anggaran tersebut akan direvisi dan dialokasikan untuk menangani rehabilitasi lahan sawah dengan tingkat kerusakan sedang di wilayah terdampak bencana di tiga provinsi di Sumatera.
Selain itu, tersedia anggaran kegiatan optimasi lahan di tiga provinsi sebesar Rp 310 miliar untuk menangani rehabilitasi dengan tingkat kerusakan ringan.
Khusus di Aceh, rehabilitasi lahan sawah dilaksanakan dengan skema padat karya agar petani terdampak tetap memiliki sumber penghasilan selama proses pemulihan berlangsung.
“Rakyat yang bekerja, yang punya sawah bekerja. Upahnya dibayar oleh pusat. Jadi mereka mengerjakan lahannya sendiri,” kata Amran.
Sebagai bagian dari dukungan konkret, Kementan juga menyalurkan berbagai bantuan sarana produksi pertanian, mulai dari pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, hingga bantuan sembako. Mentan Amran memastikan seluruh bantuan yang dijanjikan kepada pemerintah daerah telah direalisasikan.
“Kepada Pak Gubernur kami berjanji dan janji itu kami tunaikan. Bantuan sudah kami kirim, traktor sudah kami kirim,” pungkas Amran.
Simak juga Video Dampak Bencana Sumatera: 107 Ribu Ha Sawah Rusak-820 Ribu Ternak Mati
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.
